Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Info Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

KONFERENSI MUSLIMAH INTERNASIONAL TUNISIA


Kampanye Global Muslimah Hizbut Tahrir:
“Khilafah: Model Cemerlang Bagi Hak-hak Perempuan dan Peran Politiknya”

Muslimah Hizbut Tahrir mengumumkan kampanye global dengan tema “Khilafah: Model Cemerlang Bagi Hak-hak Perempuan dan Peran Politiknya“. Kampanye akan diakhiri insya Allah dengan penyelenggaraan Konferensi Internasional bersejarah di Tunisia pada tanggal 10 Maret 2012 bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Konferensi tersebut akan diikuti oleh para perempuan politisi, dan tokoh-tokoh perempuan terkemuka dari seluruh dunia Islam dan negara-negara lain.  Diharapkan dengan konferensi tersebut pandangan dunia akan tertuju pada satu sistem yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan hak-hak perempuan serta mengatasi berbagai persoalannya. Sistem itu tak lain adalah sistem Khilafah.
Tujuan dari kampanye dan konferensi ini adalah untuk mengedepankan solusi praktis yang mampu diberikan oleh Khilafah pada berbagai masalah politik, ekonomi dan sosial yang dihadapi perempuan di dunia Islam dan di berbagai tempat lain.  Juga dimaksudkan untuk membantah tuduhan dan rekayasa tentang Islam dan penindasan Islam terhadap perempuan.
Kampanye ini berisi  pesan dalam bentuk  video dari Muslimah Hizbut Tahrir dari  dunia Arab dan Afrika Utara, Eropa dan Timur Tengah, dari Pakistan hingga Indonesia, Rusia, Australia, Eropa dan lainnya.  Pesan tersebut semakin mengokohkan kenyataan bahwa hanya sistem

Jumat, 24 Agustus 2012

Syura Bukan Demokrasi

Anggapan bahwa syura (musyawarah) sama dengan demokrasi, telah masyhur dan  sudah lama adanya.  Meski demikian, anggapan ini sesungguhnya tidak benar. “Demokrasi bagi kita ialah musyawarah,” kata Sukarno, presiden pertama RI, ketika menyampaikan pidato berjudul, "Negara Nasional dan Cita-Cita Islam," di Universitas Indonesia, di Jakarta 7 Mei 1953.

Namun demikian, tak sedikit pandangan kritis yang memandang bahwa syura bukanlah demokrasi. Abdul Qadim Zallum (1990), misalnya, menegaskan, ”Demokrasi bukanlah syura, karena syura adalah meminta pendapat (thalab ar-ra’y), sedangkan demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan sistem [pemerintahan]...”

Tulisan ini bertujuan menjelaskan lebih lanjut bahwa syura (musyawarah) bukanlah demokrasi, dengan menguraikan dua hal utama, yaitu: (1) hakikat syura dan hal-hal yang berkaitan dengannya; (2) perbedaan fundamental antara syura dan demokrasi.

Tulisan ini menjelaskan lebih lanjut perbedaan syura dan demokrasi, dengan merujuk pada tiga kitab berikut: Asy-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah Juz I (Bab Asy-Syura hlm. 246-261), karya Taqiyuddin an-Nabhani (1994), Nizhâm al-Hukm fi Al-Islâm (Bab Majelis Ummat, hlm. 214-224) karya Abdul Qadim Zallum (2002), dan Ad-Dimuqrathiyah Nizhâm Kufr  karya Abdul Qadim Zallum (1990).

Mengkritisi Konsep Teo-Demokrasi

Makna Teo-Demokrasi

Konsep teo-demokrasi merupakan konsep sistem politik Islam yang digagas oleh Abul A’la al-Maududi (lahir 1903), ulama Pakistan yang mendirikan gerakan Islam Jamaat-e-Islami pada tahun 1940-an. Konsep itu dituangkan dalam bukunya yang terkenal, Al-Khilâfah wa al-Mulk (Khilafah dan Kekuasaan), yang terbit di Kuwait tahun 1978.
Seperti dapat diduga dari istilahnya, konsep teo-demokrasi adalah akomodasi ide teokrasi dengan ide demokrasi. Namun, ini tak berarti al-Maududi menerima secara mutlak konsep teokrasi dan demokrasi ala Barat. Al-Maududi dengan tegas menolak teori kedaulatan rakyat (inti demokrasi), berdasarkan dua alasan: Pertama, karena menurutnya kedaulatan tertinggi adalah di tangan Tuhan. Tuhan sajalah yang berhak menjadi pembuat hukum (law giver). Manusia tidak berhak membuat hukum. Kedua, karena praktik “kedaulatan rakyat” sering justru menjadi omong-kosong. Partisipasi politik rakyat dalam kenyataannya hanya dilakukan setiap empat atau lima tahun sekali saat Pemilu, sedangkan kendali pemerintahan sehari-hari sesungguhnya berada di tangan segelintir penguasa yang—sekalipun mengatasnamakan rakyat—sering malah menindas rakyat demi kepentingan pribadi (Amien Rais, 1988: 19-21).
Namun demikian, ada satu aspek demokrasi yang diterima al-Maududi, yakni bahwa kekuasaan (Khilafah) ada di tangan setiap individu kaum Mukmin. Khilafah tidak dikhususkan bagi kelompok atau kelas tertentu. Inilah yang—menurut al-Maududi— membedakan sistem Khilafah dengan sistem kerajaan. Dari sinilah al-Maududi lalu menyimpulkan, “Dan ini pulalah yang mengarahkan Khilafah Islamiyah ke arah demokrasi, meskipun terdapat perbedaan asasi antara demokrasi Islami dan demokrasi Barat...” (Al-Maududi, 1988: 67).
Mengenai teokrasi, yang juga menjadi akar konsep teo-demokrasi, sebenarnya juga ditolak oleh al-Maududi, terutama teokrasi model Eropa pada Abad Pertengahan di mana penguasa (raja) mendominasi kekuasaan dan membuat hukum sendiri atas nama Tuhan (Amien Rais, 1988: 22). Meskipun demikian, ada anasir teokrasi yang diambil al-Maududi, yakni pengertian kedaulatan tertinggi ada di tangan Allah. Dengan demikian, menurut al-Maududi, rakyat mengakui kedaulatan tertingggi ada di tangan Allah, dan kemudian, dengan sukarela dan atas keinginan rakyat sendiri, menjadikan kekuasaannya dibatasi oleh batasan-batasan perundang-undangan Allah Swt. (Al-Maududi, 1988: 67).
Walhasil, secara esensial, konsep teo-demokrasi berarti bahwa Islam memberikan kekuasaan kepada rakyat, tetapi kekuasaan itu dibatasi oleh norma-norma yang datangnya dari Tuhan. Dengan kata lain, teo-demokrasi adalah sebuah kedaulatan rakyat yang terbatas di bawah pengawasan Tuhan. Atau, seperti diistilahkan al-Maududi, a limited popular sovereignty under suzerainty of God (Amien Rais, 1988: 23-24). Dalam bukunya yang lain, yaitu Islamic Law and Constitution (1962: 138-139), al-Maududi menggunakan istilah divine democracy (demokrasi suci) atau popular vicegerency (kekuasaan suci yang bersifat kerakyatan) untuk menyebut konsep negara dalam Islam (Asshidiqie, 1995: 17).  

Selasa, 14 Februari 2012

Akal, Metode Berpikir, dan Proses Berpikir




Pengantar
Pembahasan akal, metode berpikir, dan proses berpikir sangat penting untuk diketahui oleh setiap muslim. Mengapa? Sebab, Allah telah menempatkan manusia sebagai makhluk yang mulia dibandingkan makhluk Allah yang lain. Allah berfirman,
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tiin: 4)

“Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al Isra’: 62)

Pembahasan akal, juga sangat relevan dengan proses keimanan seseorang bahwa akal merupakan modal untuk meraih keimanan sejati, bukan keimanan yang rapuh. Allah berfirman,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali Imran: 190)

Pembahasan tentang hakikat akal, metode berpikir, dan proses berpikir juga sangat penting untuk mengkonter setiap usaha-usaha untuk mengaburkan keimanan seorang muslim layaknya ilmu kalam dan filsafat yang telah membuat kaum muslim jauh tersesat. Fakta sejarah ilmu kalam telah menunjukkan kenyataan bahwa akal yang menjadi asas dalam meraih keimanan telah ditempatkan tidak pada tempatnya (tidak sesuai proporsi yang benar). Sehingga mengakibatkan kegoncangan luar biasa dalam tubuh kaum muslimin sendiri. Oleh karena itu, dengan mengetahui akal, metode berpikir, dan hakikat berpikir, insya Allah kita akan memiliki keimanan yang mantap, memuaskan akal, dan menentramkan hati.

Senin, 13 Februari 2012

Pernyataan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Berantas Tuntas Seks Bebas dengan Syariah dan Khilafah!!


Seks bebas yang dilakukan kaum muda makin menggila. Perayaan tahun baru dan hari Valentine sering dianggap ‘Hari Raya’nya.  Survey lembaga resmi menyatakan lebih dari 51% remaja Jabodetabek  sudah pernah/biasa melakukan hubungan seks. Tak hanya di ibukota, seks bebas juga didapati dilakukan remaja bahkan siswa SD di berbagai kota di berbagai penjuru negeri ini. Masih kita ingat berita tentang siswa SMP pesta seks di ruang kelas dan di tempat lain sekelompok siswa SD melakukannya dengan sesama jenis. Tak ayal, potret generasi penerus negeri ini lebih banyak diisi dengan perzinahan, pelacuran, kehamilan di luar pernikahan, aborsi, adiksi video porno, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Na’udzu billah..

Semua kemaksiatan itu harus segera diberantas tuntas. Dan negara adalah pihak yang paling efektif melakukannya.
Ingatlah Rasulullah SAW bersabda,  “Jika telah merajalela zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka untuk menerima azab Allah” ( HR Al Hakim dalam al Mustadrak, II/37 ).
Juga firman Allah “Peliharalah dirimu dari siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang dzalim saja diantara kamu. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya”( QS Al Anfal;25 ).

Sabtu, 04 Februari 2012

Tiga Peristiwa Besar Rabiul Awal, Maulid Nabi, Maulid Daulah Islam dan Maulid Khilafah



Oleh : KH. M. Shiddiq al-Jawi

Biasanya pada bulan Rabi’ul Awal kaum muslimin memperingati Maulid Nabi SAW. Padahal, itu hanya satu dari tiga peristiwa besar yang terjadi tanggal 12 Rabi’ul Awal. Ketiga peristiwa tersebut adalah;Pertama, maulid (hari lahirnya) Nabi SAW. Kedua, hijrahnya Nabi SAW ke Madinah, yakni berdirinya Daulah Islamiyah.Ketiga, wafatnya Nabi SAW, yakni berdirinya Khilafah Islamiyah Rasyidah. Ringkasnya, 12 Rabi’ul Awal adalah Maulid Nabi SAW, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. (Al-Waie (Arab), Edisi no. 278, Rabi’ul Awal 1431 H / April 2010 M).

1.Lahirnya Nabi SAW
Nabi SAW dilahirkan hari Senin 12 Rabiul Awal pada tahun Gajah di Makkah. (Rawwas Qalahjie, Sirah Nabawiyah (terj.), hal. 15; Ibnul Qayyim,Zadul Maad, Juz 1 hal. 28). Kelahiran Nabi SAW sendiri banyak diiringi dengan berbagai keajaiban. Qadhi Iyadh dalam kitabnya Asy-Syifa`menyebut ada 132 keajaiban. Di antaranya, ketika lahir dan digendong oleh Asy-Syifa` Ummu Abdurrahman bin Auf, beliau menangis keras dan berkata,"Semoga Allah merahmatimu."(rahimakillah). (Qadhi Iyadh, Asy-Syifa` bi Ta'rif Huquq Al-Mushtafa, hal. 205).

Kelahiran Nabi SAW adalah kelahiran seseorang yang kelak mempunyai banyak keistimewaan di dunia dan akhirat dalam segala aspeknya. Banyak kitab telah ditulis tentang beliau, seperti kitab Qiyadatur Rasul As-Siyasiyah wa Al-Askariyah karya Ahmad Ratib Armusy (Beirut : Darun Nafa`is, 1991), yang mencoba menjelaskan aspek kepemimpinan Nabi SAW dalam bidang militer dan politik. Juga kitab Dirasat Tahliliyah li Syakhshiyah Ar-Rasul karya Rawwas Qalahjie (Beirut : Darun Nafa`is, 1988). Kitab ini mencoba melukiskan kepribadian Nabi SAW secara lebih lengkap, tak hanya aspek kemiliteran dan kepemimpinan, tapi juga pribadi beliau sebagai guru (murabbi), suami, dan sebagai manusia biasa (aspek kemanusiaan/basyariyah).

Di antara keistimewaan Nabi SAW ialah beliau memegang dua kedudukan sekaligus, yakni sebagai nabi sekaligus kepala negara. Imam Taqiyuddin an-Nabhani berkata,"Nabi SAW memegang kedudukan kenabian/kerasulan, dan pada waktu yang sama memegang kedudukan kepemimpinan kaum muslimin dalam menegakkan hukum-hukum Islam."(Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Hukm fil Islam, hal. 117).

Imam Taqiyuddin An-Nabhani mendasarkan pendapatnya pada dua kategori ayat yang berbeda. Pertama, ayat-ayat yang terkait dengan tugastabligh (menyampaikan wahyu) seperti QS Al-Maidah : 67, yang artinya,"Wahai rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." Kedua, ayat-ayat yang terkait dengan tugas al-hukm bimaa anzalallah (menerapkan hukum yang diturunkan Allah) seperti QS Al-Maidah : 48 dan 49, yang artinya,"Maka berikanlah keputusan hukum di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah." Jadi Nabi SAW bukan hanya seorang nabi yang bertugas menyampaikan wahyu, namun juga sekaligus pemimpin negara yang menerapkan hukum Allah kepada masyarakat. (Taqiyuddin an-Nabhani,Nizhamul Hukm fil Islam, hal. 118).

Tugas kenabian ini berakhir dengan wafatnya Nabi SAW. Namun tugas kepemimpinan negara ini tak berakhir, melainkan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah sebagai kepala negara Khilafah sepeninggal Nabi SAW. Sabda Nabi SAW,"Dahulu Bani Israil diatur urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan nabi lainnya. Dan sesungguhnya tak ada lagi nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlah mereka akan banyak…" (HR Muslim)

2.Hijrahnya Nabi SAW
 Bulan Muharram memang ditetapkan sebagai awal perhitungan tahun Hijriyah. Tapi hijrahnya Nabi SAW sendiri tidak terjadi pada bulan Muharram, melainkan pada bulan Rabi'ul Awal.

Beliau mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin tanggal 1 Rabi'ul Awal tahun I Hijriyah (16 September 622 M). Nabi SAW sampai di Quba hari Senin tanggal 8 Rabiul Awal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Nabi SAW selanjutnya memasuki Madinah hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 H. (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (terj.), hal. 232-233; Ahmad Ratib Armusy, Qiyadatur Rasul, hal. 40).

Dengan demikian, tanggal 12 Rabiul Awal itu adalah sampainya Nabi di Madinah. Ini menandai berdirinya Daulah Islamiyah (qiyam ad-daulah al-islamiyah) (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 48).

Sebelum hijrah, terjadi peristiwa Baiat Aqabah II di Makkah antara Nabi SAW dan suku Auz dan Khrazraj dari Madinah. Baiat ini sesungguhnya adalah akad pendirian Daulauh Islamiyah, antara Nabi SAW dan suku Aus dan Khazraj. (Al-Marakbi, Al-Khilafah Al-Islamiyah Bayna Nuzhum Al-Hukm Al-Muashirah, hal. 16). Jadi dengan baiat tersebut secara hukum (de jure) Nabi SAW sudah menjadi kepala negara di Madinah. Namun secara fakta (de facto) kepemimpinan ini baru efektif setelah Nabi SAW sampai di Madinah.

Hijrahnya Nabi SAW ke Madinah bukan karena beliau takut akan dibunuh Quraisy. Namun alasan sesungguhnya adalah karena di Madinah terdapat kesiapan masyarakat untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mendukung dakwah Islam yang diemban Nabi SAW. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal. 47).

3. Wafatnya Nabi SAW
Nabi SAW wafat hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. (Ibnu Katsir, As-Sirah An-Nabawiyah, Juz IV hal. 507. Ibnu Katsir berkata,"Inilah tanggal yang dipastikan oleh Al-Waqidi dan Muhammad bin Saad. Lihat pula Muruj Adz-Dzahab, Juz II hal. 304. Dikutip oleh Mahmud Al-Khalidi,Qawaid Nizham Al-Hukm fi Al-Islam, hal. 255).

Wafatnya Nabi SAW ini menjadi pertanda lahirnya negara Khilafah Islam Rasyidah. Sebab pada hari yang sama, bahkan sebelum jenazah Nabi SAW dimakamkan, umat Islam telah membaiat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah.

Nabi SAW meninggal pada waktu Dhuha hari Senin itu. Sementara Abu Bakar Shiddiq dibaiat sebagai khalifah hari Senin itu pula (baiat iniqad / baiat khashash). Selasa pagi Abu Bakar Shiddiq dibaiat oleh kaum muslimin di masjid (baiat thaat / baiat ammah). Nabi SAW sendiri baru dimakamkan pada pertengahan malam pada malam Rabu. (Ajhizah Daulah Al-Khilafah, hal.13).

Walhasil, pada bulan Rabiul Awal telah terjadi tiga peristiwa besar, yaitu Maulid Nabi SAW, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. Ketiganya wajib kita pahami dan kita jadikan sebagai sumber semangat di masa sekarang untuk berjuang menegakkan kembali Khilafah. Sebab Khilafah inilah yang dirintis oleh Nabi SAW sebagai Daulah Islamiyah, lalu dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin sebagai Khilafah Rasyidah. Sabda Nabi SAW,"Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku…"(HR Tirmidzi). Wallahu a’lam.

Kamis, 02 Februari 2012

Meneladani Nabi saw Mewujudkan Rasa Keadilan


[Al Islam 592]
Dalam suasana peringatan maulid Nabi Muhammad saw saat ini, tentu sangat layak kita merenungkan kembali keteladanan Rasulullah saw. yang paripurna baik sebagai pribadi, pemimpin keluarga maupun pemimpin negara. Juga sangat perlu kita pahami hakikat meneladani Nabi saw. dalam segala aspeknya, termasuk dalam hal kepemimpinan politik/negara, dan tidak berhenti hanya pada tataran moral/akhlak belaka.
Allah SWT di dalam surat al-Ahzab ayat 21 memerintahkan kita untuk meneladani Nabi saw secara utuh, yakni meneladani semua keteladanan yang ada pada diri Nabi, bukan hanya sepenggal seraya mengabaikan yang lainnya. Tentu untuk itu, ajakan meneladani Nabi saw itu bukan sekadar ajakan untuk mengikuti akhlak Nabi saw. secara pribadi, sembari mengabaikan sebagian besar keteladanan Beliau pada aspek syariah lainnya seperti menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam negara. Sebab yang demikian itu adalah bentuk pengkerdilan terhadap teladan Rasulullah saw., bukan memuliakan dan mengagungkan (takrîm[an] wa ta’zhîm[an]) Baginda Rasulullah saw.
Keteladanan Nabi saw akan senantiasa relevan untuk kita adopsi guna menjawab segala tantangan dan problem masa kini yang kita hadapi, termasuk dalam hal mewujudkan rasa keadilan di tengah masyarakat yang dalam sistem saat ini terasa makin jauh. Hukum hanya tajam ke bawah yakni masyarakat kecil. Bahkan hukum tak jarang buntu untuk bisa memberikan rasa keadilan pada masyarakat. Contohnya dalam insiden Xenia maut di dekat Tugu Tani Jakarta pada Ahad (22/1). Akibat ditabrak Xenia maut itu, sembilan orang meninggal dunia dimana satu diantaranya tengah hamil tiga bulan dan tiga orang dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat. Menurut keterangan Polisi, pengemudi Xenia maut itu malam sebelum kejadian berpesta miras dan mengkonsumsi narkotika.

Jumat, 23 Desember 2011

Refleksi Akhir Tahun 2011: Umat Masih Menderita Karena Kapitalisme, Hanya Syariah dan Khilafah Solusinya !


Tahun 2011 segera akan berlalu. Banyak peristiwa telah terjadi. Terhadap 10 (sepuluh) peristiwa atau topik penting baik menyangkut ekonomi, politik maupun sosial budaya di sepanjang tahun 2011, Hizbut Tahrir Indonesia memberikan catatan.
1. RAKYAT MISKIN DI NEGARA KAYA
Di tahun 2011 ini sejumlah survei mengemukakan adanya peningkatan nilai kekayaan orang-orang kaya di Indonesia. Majalah Forbes misalnya pada November lalu merilis 40 daftar orang terkaya di Indonesia dengan akumulasi kekayaan US$ 85,1 miliar. Angka tersebut naik 16% dari tahun sebelumnya. Dengan kata lain, nilai kekayaan mereka setara dengan 11 persen total PDB Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai US$752 miliar. Hebatnya, tiga orang terkaya dari daftar tersebut tersebut memiliki total kekayaan US$32,5 miliar.
Sementara itu, Nomura, lembaga riset yang berbasis di Jepang, dalam

Minggu, 28 Agustus 2011

"40 Keajaiban Ramadhan"

. . ♥ ✿ •*¨`*•.¸(¯`v´¯)¸.•´*¨`*•✿ ♥ . .
♥…….…………...♥ •.¸.•´♥………….………♥

"40 Keajaiban Ramadhan"


Selama Ramadhan, Imam Syafi’i menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam shalat. Inilah ‘rahasia 40 Keajaiban Ramadhan’

Selama Ramadhan, Allah memerintahkan seluruh penghuni surga berhias. Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” [HR. Baihaqi].

Itulah sisi menarik keajaiban bulan Ramadhan yang tak banyak orang tahu.